Dr. BRM Kusumo Putro: Solo Kota Seni, Tapi Belum Punya Gedung Kesenian Representatif.

SOLO – Persoalan belum tersedianya gedung kesenian dan kebudayaan yang representatif kembali menjadi perhatian di Kota Surakarta. Ketua Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI), Dr. BRM Kusumo Putro, S.H., M.H., menilai kebutuhan terhadap fasilitas seni terpadu di Solo sudah berada pada tahap mendesak.

Hal tersebut disampaikan Kusumo saat menghadiri Emparty Fest #1, sebuah ajang yang mempertemukan berbagai ekspresi seni dan kreativitas para seniman. Kehadiran kegiatan tersebut menurutnya menjadi bukti bahwa geliat seni di Kota Bengawan masih tumbuh dan memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

Bacaan Lainnya

Kusumo mengatakan, keberadaan ruang berkesenian yang memadai bukan sekadar persoalan pembangunan fisik. Menurutnya, fasilitas seni merupakan bagian penting dari ekosistem kebudayaan sekaligus sarana untuk menjaga kesinambungan kreativitas para seniman dari generasi ke generasi.

“Solo dikenal sebagai kota seni dan budaya. Karena itu, sudah semestinya memiliki gedung kesenian dan kebudayaan yang representatif, sehingga para seniman mempunyai ruang yang layak untuk berkarya, berekspresi dan memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat,” ujar Kusumo.

Pandangan tersebut bukan merupakan gagasan baru. Sebelumnya, Kusumo juga telah berulang kali menyuarakan pentingnya pembangunan gedung kesenian di Solo. Pada Juli 2026, ia menilai predikat Solo sebagai kota seni dan budaya perlu diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur kebudayaan yang memadai.

Bahkan, aspirasi mengenai pembangunan gedung kesenian tersebut telah diperjuangkan sejak beberapa tahun lalu. Kusumo pernah menyampaikan harapan agar Solo memiliki gedung kesenian dengan nuansa budaya Jawa yang kuat, namun tetap dilengkapi fasilitas modern dan berkualitas.

Menurut Kusumo, gedung kesenian yang ideal tidak hanya digunakan sebagai tempat pertunjukan. Fasilitas tersebut dapat dikembangkan menjadi pusat aktivitas kebudayaan yang memiliki ruang pamer, ruang pertunjukan, ruang komunitas, hingga area yang memungkinkan seniman memasarkan hasil karyanya.

“Yang dibutuhkan bukan hanya gedung pertunjukan, tetapi sebuah kawasan atau pusat kesenian yang mampu menampung berbagai aktivitas seni dan budaya. Mulai dari seni rupa, pertunjukan, kerajinan, hingga ruang bagi para pelaku ekonomi kreatif,” jelasnya.

Ia menilai pembangunan fasilitas tersebut juga dapat menjadi investasi kebudayaan jangka panjang bagi Kota Surakarta. Dengan adanya tempat yang representatif, berbagai komunitas seni akan memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperkenalkan karya mereka kepada wisatawan maupun masyarakat luas.

Kusumo juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Emparty Fest #1. Menurutnya, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa seniman Solo tidak pernah kehilangan energi kreatif meskipun masih menghadapi keterbatasan ruang untuk berekspresi.

Emparty Fest #1 yang berlangsung selama 4–10 Agustus 2026 menghadirkan beragam karya dan pertunjukan. Tidak hanya seni lukis, kegiatan tersebut juga menampilkan fotografi artistik, seni tosan aji atau keris, seni patung, tari tradisional dan kontemporer, serta pertunjukan musik.

Keberagaman karya tersebut, kata Kusumo, memperlihatkan luasnya potensi seni yang dimiliki Solo. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu melihat perkembangan komunitas seni sebagai bagian dari kekuatan kebudayaan sekaligus potensi ekonomi kreatif.

“Jangan sampai kreativitas para seniman hanya berhenti pada kegiatan-kegiatan temporer. Mereka membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan dan dukungan infrastruktur agar karya-karya tersebut bisa terus berkembang,” tegasnya.

Dorongan tersebut sejalan dengan aspirasi sejumlah pegiat seni dan budaya di Solo. Pada Juli 2026, ratusan pegiat seni dan masyarakat bahkan menggelar aksi budaya di kawasan Car Free Day Jalan Slamet Riyadi untuk menyuarakan kebutuhan pembangunan gedung kesenian dan kebudayaan.

Bagi Kusumo, pembangunan gedung kesenian bukan hanya untuk kepentingan seniman hari ini. Lebih jauh, keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga identitas Kota Surakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa.

Ia berharap Pemerintah Kota Surakarta dapat menangkap aspirasi para seniman dan komunitas budaya tersebut melalui kebijakan yang konkret.

“Kalau Solo ingin terus dikenal sebagai kota seni dan budaya, maka infrastrukturnya juga harus disiapkan. Ini bukan sekadar kebutuhan para seniman, tetapi kebutuhan kota untuk menjaga identitas, kebudayaan dan masa depan generasi berikutnya,” pungkas Kusumo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan