SUKOHARJO – Di tengah derasnya arus modernisasi, sebuah ikhtiar pelestarian budaya lahir dari Kartasura. Melalui kegiatan “Urunan Gawe Keris Kartasura”, masyarakat, budayawan, empu keris, pemerintah, dan pegiat kebudayaan bergandengan tangan membangun sebuah simbol baru yang bukan sekadar pusaka, tetapi juga penanda identitas budaya dan sejarah daerah.
Bagi Dr. BRM Kusuma Putro, SH., MH., Ketua Yayasan Forum Budaya Mataram dan Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) gerakan tersebut merupakan bentuk nyata membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai adiluhung warisan leluhur.
“Kegiatan seperti ini bukan hanya membuat sebilah keris, tetapi sedang membangun kesadaran budaya. Kita sedang menghidupkan kembali memori sejarah bangsa agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya saat menghadiri saresehan budaya di Kartasura.
Menurut Kusuma Putro, Kartasura memiliki posisi yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Mataram Islam. Wilayah ini menjadi mata rantai yang menghubungkan perkembangan budaya Jawa sebelum lahirnya Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.
Karena itu, lahirnya Keris Kartasura dinilai memiliki makna historis yang jauh melampaui nilai bendanya.
Keris, Simbol Peradaban Nusantara
Dalam pandangan Forum Budaya Mataram, keris selama ini kerap dipersepsikan hanya sebagai benda bertuah atau koleksi antik. Padahal, secara historis keris merupakan mahakarya teknologi metalurgi, seni rupa, filosofi, hingga spiritualitas masyarakat Nusantara.
Pengakuan dunia terhadap nilai tersebut dibuktikan ketika keris Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2005 dan kemudian masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2008. UNESCO menilai keris bukan hanya senjata tradisional, tetapi juga simbol budaya yang memuat nilai sejarah, seni, filosofi, hingga identitas masyarakat Indonesia. (Ich UNESCO)
Dalam tradisi Jawa, setiap keris memiliki unsur dhapur (bentuk bilah), pamor (motif logam), dan tangguh (perkiraan masa pembuatannya). Keseluruhan unsur tersebut bukan sekadar ornamen, melainkan mengandung makna filosofis yang diwariskan lintas generasi. (E-Journal Univet Bangun Nusantara)
Generasi Muda Mulai Jauh dari Budaya
Keprihatinan itulah yang disampaikan Kusuma Putro.
Menurutnya, semakin banyak generasi muda yang tidak lagi mengenal keris sebagai bagian dari identitas budaya Jawa. Bahkan, pengetahuan mengenai pamor, tangguh, maupun filosofi keris mulai memudar.
Sebagai bentuk kecintaannya terhadap budaya, Kusuma Putro mengaku selama lebih dari dua dekade mengoleksi sekitar 225 bilah keris dari berbagai masa, mulai era Majapahit, Demak, Surakarta, Mangkunegaran, Yogyakarta, Cirebon hingga Bali.
“Keris-keris itu saya rawat sendiri. Untuk membersihkan satu keris saja membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Bayangkan kalau jumlahnya ratusan. Namun itu saya lakukan sebagai bentuk penghormatan kepada karya agung para empu Nusantara,” katanya.
Menurutnya, koleksi tersebut bukan untuk diperjualbelikan, melainkan sebagai media edukasi bagi masyarakat yang ingin memahami sejarah keris.
Kartasura Sedang Menulis Sejarah Baru
Forum Budaya Mataram menilai Urunan Gawe Keris Kartasura bukan sekadar kegiatan seremonial.
Penggagas kegiatan, Budi AJM , menjelaskan bahwa keris yang sedang ditempa akan menjadi ikon Kartasura sekaligus simbol doa bersama masyarakat.
Pamor yang dipilih, seperti Beras Wutah dan Udan Mas, melambangkan kecukupan rezeki dan kemakmuran. Proses penempaannya memadukan besi, emas, perak, perunggu hingga unsur meteorit, serta menggunakan air dari berbagai sumber mata air dan air hujan sebagai simbol bersatunya unsur bumi dan langit dalam sebuah doa.
Keris tersebut nantinya direncanakan dikirab setiap Hari Jadi Kartasura sebagai tradisi budaya yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dorong Dukungan Pemerintah
Forum Budaya Mataram juga berharap pelestarian budaya tidak berhenti pada satu kegiatan.
Kusuma Putro mendorong pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Sukoharjo memperkuat dukungan terhadap program-program kebudayaan melalui penganggaran yang memadai sehingga kegiatan serupa dapat berkembang menjadi agenda tahunan.
Menurutnya, pelestarian budaya memerlukan kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, empu, dan masyarakat.
“Budaya tidak akan lestari hanya dengan pidato. Budaya harus dihidupkan melalui tindakan nyata. Apa yang dilakukan masyarakat Kartasura hari ini adalah contoh bagaimana sebuah daerah sedang menulis sejarahnya sendiri melalui kebudayaan,” tegasnya.
Bagi Forum Budaya Mataram, keberadaan Keris Kartasura bukan semata melahirkan sebuah pusaka baru, melainkan menjadi simbol bahwa warisan leluhur masih memiliki ruang hidup di tengah masyarakat modern. Ketika sebuah daerah mampu menjaga budayanya, sesungguhnya daerah tersebut sedang menjaga jati dirinya sekaligus memperkuat identitas bangsa Indonesia.






