Rojolele Reborn, Muhammadiyah Dorong Kedaulatan Pangan dari Klaten

Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah (ist)

Klaten – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendorong penguatan sektor pertanian melalui program Kick Off Rojolele Reborn. Program tersebut ditandai dengan penanaman bersama padi varietas Rojolele-104 di Gempol, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah meningkatkan pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok tani, sekaligus memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

Ketua MPM PP Muhammadiyah M. Nurul Yamin mengatakan, program Rojolele Reborn merupakan langkah awal untuk mengembangkan potensi pertanian dan pangan berbasis masyarakat.

Menurutnya, Rojolele memiliki sejarah panjang di Kabupaten Klaten. Varietas tersebut pernah diperkenalkan secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Klaten pada 2013, sementara Muhammadiyah mulai mengambil peran dalam pengembangannya sejak 2017.

“Momentum hari ini bukan hanya sekadar simbolik kita tanam raya padi Rojolele, tetapi juga sekaligus berkenaan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ini menjadi momentum membangun kemerdekaan dan kedaulatan pangan Indonesia,” ujar Yamin.

Ia menambahkan, pemberdayaan kelompok tani merupakan bagian dari komitmen Muhammadiyah dalam memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, penguatan sektor pertanian menjadi salah satu bentuk nyata pemberdayaan masyarakat untuk membangun kemandirian pangan.

Rojolele Jadi Branding Beras Klaten

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir turut memberikan dukungan terhadap program tersebut. Ia menilai Klaten memiliki posisi strategis sebagai salah satu daerah penghasil padi di Jawa Tengah.

“Apresiasi kepada MPM PP Muhammadiyah yang hari ini menjalankan penanaman padi jenis Rojolele di Jawa Tengah, khususnya di Klaten. Kita tahu Klaten adalah bagian dari lumbung padi Jawa Tengah. Rojolele adalah sebuah branding yang luar biasa untuk beras,” katanya.

Tafsir berharap beras Rojolele yang selama ini dikenal sebagai produk premium dapat semakin mudah dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.

Lebih jauh, ia mendorong agar pengembangan Rojolele tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang pasar ekspor.

“Sudah saatnya kita berpikir tidak sekadar impor, tapi juga ekspor. Tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tapi sudah saatnya kita ekspor ke negara lain,” tegas Tafsir.

Tanam di Tiga Wilayah

Pada tahap awal, penanaman Rojolele-104 dilakukan di tiga wilayah Cabang Muhammadiyah. Di Gempol, lahan yang digunakan mencapai 8.000 meter persegi, kemudian di Ceper seluas 5.500 meter persegi, serta Prambanan dengan luas 3.000 meter persegi.

Program Kick Off Rojolele Reborn: “Meningkatkan Kapasitas Produksi dan Kelembagaan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM)” tersebut merupakan kolaborasi MPM PP Muhammadiyah, PT Danone Indonesia, dan JATAM MPM PDM Klaten.

Program ini diharapkan tidak hanya menghidupkan kembali kejayaan Rojolele sebagai identitas beras Klaten, tetapi juga memperkuat kelembagaan petani, meningkatkan kapasitas produksi, serta membuka peluang pasar yang lebih luas.

Dengan penguatan dari sisi produksi dan kelembagaan, Rojolele Reborn diharapkan menjadi salah satu gerakan konkret Muhammadiyah dalam mendorong kemandirian dan kedaulatan pangan Indonesia.

(Kontributor: Arif)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan