Sukoharjo – Suasana hening menyelimuti Sendang Panguripan di sebuah sudut Desa Demakan. Gemericik air sendang yang jernih berpadu dengan desir angin di antara pepohonan rindang. Di tempat ini, kisah turun-temurun tentang kekuatan air untuk pengobatan alternatif terus hidup, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Sendang ini konon sejak zaman nenek moyang sudah dikenal sebagai tempat penyembuhan, khususnya bagi mereka yang mengalami patah tulang atau luka berat,” tutur Kepala Desa Demakan, M. Harban Mulhadi ST, saat ditemui di lokasi, Senin (17/6).
Cerita paling populer di kalangan warga adalah kisah Mbah Kiai Angkaspati. Ia diyakini sebagai tokoh spiritual yang pernah mengalami patah tulang, kemudian sembuh setelah mandi di Sendang Panguripan. Sejak saat itu, air sendang ini dipercaya memiliki khasiat khusus.
Air Penyembuh yang Tetap Dicari
Meski zaman telah berganti, kepercayaan terhadap kekuatan air sendang ini tak pernah surut. Tak sedikit warga dari luar daerah yang datang dengan membawa jerigen, sekadar untuk mengambil airnya dan dibawa pulang sebagai bagian dari ikhtiar pengobatan.
“Banyak yang datang diam-diam, biasanya malam hari. Mereka mandi atau membawa pulang air untuk menyembuhkan penyakit. Keyakinan itu datang dari hati masing-masing,” ujar Suwarno, warga RT 3 RW 6 Dusun Ganggasan, sekaligus tokoh masyarakat setempat.
Momentum paling ramai adalah setiap malam 1 Sura, dalam kalender Jawa. Saat itulah, para peziarah dari dalam dan luar daerah datang, bahkan ada yang berasal dari kalangan Keraton. Suasana berubah menjadi semacam ritual sunyi, dengan doa-doa dan sesaji yang dipanjatkan di dekat sendang.
“Kadang ada juga yang datang dari kalangan pejabat, tapi mereka biasanya tidak ingin diketahui. Hanya datang, permisi, lalu melakukan ritual pribadi,” tambah Suwarno.
Antara Mitos dan Pelestarian
Pemerintah Desa Demakan berupaya menjaga kelestarian sendang tanpa mengganggu nilai-nilai spiritual yang diyakini masyarakat. Salah satu aturan tak tertulis yang terus dijaga adalah larangan membangun cor atau struktur permanen di sekitar sendang.
“Tempat ini tidak boleh dicor atau disemen. Kita justru akan membuat taman dengan menanam pohon-pohon agar lebih rindang dan alami,” jelas Harban.
Sendang Panguripan menjadi bukti bahwa nilai-nilai lokal dan spiritual masih hidup di tengah masyarakat modern. Tempat ini bukan sekadar sumber air, tetapi juga menjadi ruang harapan, tempat di mana keyakinan, tradisi, dan alam bersatu dalam kesunyian.






