Surakarta – Harapan agar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menjadi pusat budaya dan kearifan lokal di Tanah Jawa terus bergema. Meski langkah Putra Mahkota Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram yang mengikrarkan diri sebagai Pakubuwono XIV menuai pro dan kontra di kalangan internal keraton, hal itu tak menyurutkan niatnya untuk melaksanakan hajad dalem jumenengan nata di Keraton Surakarta pada akhir pekan ini.
Dari berbagai sumber, prosesi tersebut tetap akan digelar di dalam kompleks keraton meskipun situasi internal masih diwarnai perbedaan pendapat terkait suksesi pasca wafatnya PB XIII.
Pelestarian Budaya Tak Lepas dari Sejarah Panjang Mataram
Menanggapi dinamika tersebut, Ketua Umum Yayasan Forum Budaya Mataram (FBM) sekaligus Ketua Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI), BRM Dr. Kusumo Putro, S.H., M.H., menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan Keraton sebagai pusat adat dan budaya Jawa yang berakar pada nilai-nilai luhur Mataram Islam.
Menurutnya, sejarah panjang Keraton Surakarta tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, mulai dari Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram Islam. Dari warisan itu lahir empat garis keturunan besar Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman yang semuanya membawa nilai dan ajaran luhur para leluhur Jawa.
“Sebagai penerus kejayaan Mataram Islam, para trah raja hendaknya bercermin pada sejarah. Mengambil yang baik, membuang yang merugikan. Paugeran dan etika yang diwariskan leluhur adalah pedoman moral yang harus dijaga,” tegas Kusumo Putro.
Belajar dari Laku Para Leluhur
Kusumo menambahkan, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, dan Sultan Agung Hanyokrokusumo telah menanamkan dasar spiritual, kesatria, dan kepemimpinan yang luhur.
“Mereka tidak hanya mengejar kekuasaan, tapi juga menempuh laku prihatin dan mengedepankan keseimbangan batin. Dari sanalah lahir kepemimpinan yang mampu memayuhayuning bawana menjaga harmoni semesta,” ujarnya.
Dalam pandangan Kusumo, kemelut yang terjadi di tubuh Keraton Surakarta seharusnya menjadi refleksi agar para penerus lebih fokus pada misi pelestarian budaya, bukan perebutan tahta.
“Panembahan Senopati dan Sultan Agung pasti bersedih bila melihat keturunannya berselisih karena kekuasaan,” tambahnya.
Kearifan dan Paugeran sebagai Penuntun Zaman
Ia menegaskan bahwa paugeran (tata nilai adat) mungkin tidak tertulis seperti hukum formal, namun memiliki nilai spiritual yang dalam. Paugeran berdiri di atas fondasi moral, etika, dan kemaslahatan umat.
“Jika para pewaris tak mampu mengamalkan ajaran luhur seperti syukur, sabar, dan narima, maka marwah budaya Jawa akan luntur. Menengok sejarah bukan untuk bernostalgia, tapi untuk belajar dan menuntun langkah di masa depan,” tutur Kusumo.
Keraton Sebagai Cahaya Budaya Nusantara
Kusumo Putro menutup dengan harapan agar Keraton Kasunanan Surakarta kembali menjadi “Cahaya Budaya” bukan simbol kekuasaan, melainkan pusat kebijaksanaan dan moralitas Jawa.
“Cita-cita kejayaan Keraton bukan mengulang kekuasaan lama, tapi menghidupkan kembali nilai-nilai luhur para leluhur. Keraton harus menjadi sumber cahaya budaya dan kearifan lokal bagi Indonesia,” pungkasnya.






