SUKOHARJO – Peresmian Monumen Soeharto di lingkungan Brigif 6 Trisakti Balajaya, Minggu (1/3/2026), tak hanya menjadi agenda militer, tetapi juga momentum historis yang sarat makna kebangsaan. Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad menegaskan, monumen tersebut merupakan simbol penghormatan atas jasa Panglima pertama Kostrad sekaligus figur sentral dalam sejarah perjuangan bangsa.
Acara yang dihadiri jajaran Forkopimda Surakarta dan Sukoharjo, unsur TNI-Polri, serta keluarga besar almarhum berlangsung khidmat di Kesatrian Haji Muhammad Soeharto.
Dalam sambutannya, Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 2 Kostrad Mayjen TNI Primadi Saiful Sulun, S.Sos., M.Si menekankan bahwa monumen tersebut bukan sekadar karya seni atau ornamen satuan.
“Monumen ini adalah penanda sejarah dan simbol kehormatan. Ia berdiri untuk mengingatkan kita akan jati diri prajurit Kostrad yang tangguh, disiplin, loyal, dan siap digerakkan kapan pun demi NKRI,” tegasnya.
Menghidupkan Spirit 1 Maret 1949
Tanggal 1 Maret dipilih sebagai hari peresmian karena bertepatan dengan momentum bersejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Dalam peristiwa tersebut, pasukan Republik Indonesia berhasil menguasai kota selama enam jam, mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa Republik Indonesia tetap eksis dan tidak menyerah.
Peristiwa itu menjadi tonggak diplomasi internasional sekaligus penguat moral rakyat. Pangdiv menyebut nilai keberanian, ketegasan, dan visi kepemimpinan yang tercermin dalam peristiwa itu sebagai teladan abadi bagi prajurit.
“Setiap generasi memiliki tantangan zaman. Tugas kita adalah menjawabnya dengan integritas, profesionalisme, dan dedikasi tanpa batas,” ujarnya.
Sambutan Keluarga: Sejarah untuk Diteruskan
Mewakili keluarga besar Siti Hediati Suharto , salah satu anggota keluarga Soeharto menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas pendirian monumen tersebut. Dalam sambutannya, ia mengawali dengan salam serta menyampaikan apresiasi kepada jajaran pejabat daerah dan unsur TNI-Polri yang hadir.
Ia menegaskan bahwa pemilihan tanggal 1 Maret bukanlah kebetulan, melainkan memiliki makna mendalam dalam perjalanan sejarah bangsa.
“Tanggal 1 Maret bukan tanggal biasa. Pada 1 Maret 1949 terjadi serangan yang mengguncang dunia. Dalam enam jam, para pejuang berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada, para pejuang masih ada, dan bangsa ini tidak menyerah,” ungkapnya.
Menurutnya, monumen tersebut bukan sekadar patung, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan dijaga oleh keberanian, disiplin, serta kesetiaan kepada negara.
“Sejarah bukan untuk dikenang saja, tetapi untuk diteruskan dalam tindakan. Tantangan zaman boleh berubah, tetapi nilai kesetiaan kepada NKRI tidak boleh goyah,” tegasnya di hadapan prajurit Brigif 6 dan Divif 2 Kostrad.
Ia juga mengajak seluruh prajurit menjaga kehormatan satuan, memelihara disiplin, serta memperkuat loyalitas kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Di akhir sambutannya, keluarga memanjatkan doa agar almarhum diampuni segala dosa dan diterima amal ibadahnya, serta berharap monumen tersebut menjadi warisan sejarah yang menginspirasi generasi prajurit masa kini dan mendatang.
Simbol Kehormatan dan Identitas Satuan
Peresmian monumen ini mempertegas posisi Brigif 6 Trisakti Balajaya sebagai satuan yang tak hanya mengemban tugas pertahanan, tetapi juga memelihara memori kolektif perjuangan bangsa. Keberadaan monumen di lingkungan kesatrian diharapkan menumbuhkan kebanggaan serta memperkuat motivasi prajurit dalam menjaga kehormatan satuan dan bangsa.
Dengan berdirinya monumen tersebut, semangat 1 Maret diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan terus hidup dalam disiplin, kesiapsiagaan, dan pengabdian prajurit kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.






