KLATEN – Di tengah dominasi musik pop dan dangdut dalam Lomba Cipta Lagu Piala Bupati Klaten 2025, sebuah karya tampil berbeda dan mencuri perhatian. Lagu berjudul “Ono Opo Klaten”, yang dibawakan oleh penyanyi asal Klaten Melisa Cantika dan diproduseri oleh musisi VIDITAMA, berhasil menembus lima besar finalis, menyisihkan puluhan peserta lainnya.
Bukan sekadar lagu lomba, Ono Opo Klaten hadir sebagai narasi musikal tentang rindu, identitas, dan kebanggaan pada kampung halaman. Lagu ini mengusung warna hip-hop Jawa, sebuah pendekatan yang jarang digunakan dalam ajang serupa, dengan lirik lugas berbahasa Jawa yang mengalir apa adanya.
Bagi Melisa Cantika, keikutsertaannya dalam ajang ini menjadi babak baru dalam perjalanan kariernya. Penyanyi yang telah aktif sejak 2016 itu dikenal luas di panggung-panggung daerah, mulai dari acara pernikahan, kegiatan kantor, hingga hiburan rakyat. Namun melalui lagu ini, Melisa menunjukkan sisi lain: vokal lembut yang dipadukan dengan cerita kolektif tentang Klaten.
“Lagu ini bukan soal menang atau kalah. Ini tentang bagaimana kami menyampaikan rasa cinta kepada Klaten,” ujar Melisa.
Lagu sebagai Peta Budaya
Lirik Ono Opo Klaten mengajak pendengar berkeliling Klaten lewat musik. Dari Rowo Jombor, Umbul Ponggok, hingga Girpasang dengan latar Merapi, dari Candi Prambanan dan Plaosan, hingga kekayaan UMKM seperti Batik Bayat, Lurik Pedan, dan Payung Lukis Juwiring yang telah diakui sebagai warisan budaya nasional.
Tak ketinggalan, deretan kuliner khas Klaten keripik paru, ayam panggang, hingga getuk kurung hadir sebagai simbol kehangatan rumah yang selalu dirindukan para perantau.
Lagu ini juga menyentuh sisi historis Klaten dengan menyebut Eyang Melati, tokoh legendaris yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Kabupaten Klaten. Unsur budaya kian lengkap lewat penggambaran pagelaran wayang kulit malam Selasa Kliwon di RSPD Klaten serta revitalisasi Alun-alun Klaten yang kini menjadi ruang publik favorit warga.
Kolaborasi Pendatang Baru
Di balik aransemen musik yang segar, terdapat peran VIDITAMA (Widi Nugroho), musisi sekaligus produser asal Klaten yang juga dikenal sebagai CEO perusahaan kreatif digital. Ia menggarap seluruh proses produksi—dari komposisi hingga mastering—dengan misi yang jelas: menghadirkan karya modern tanpa meninggalkan akar budaya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa musik daerah bisa dibungkus dengan pendekatan kekinian tanpa kehilangan jiwanya,” kata VIDITAMA.
Kolaborasi Melisa dan VIDITAMA menjadi simbol munculnya generasi baru seniman Klaten yang berani tampil beda di tengah arus utama industri musik.
Lebih dari Sekadar Lomba
Meski baru masuk Top 5 besar, kehadiran Ono Opo Klaten telah memberi warna tersendiri dalam ajang yang digelar Dewan Kesenian Klaten 2025. Lagu ini kini mendapat perhatian publik dan dukungan masyarakat sebagai karya kolektif putra-putri daerah.
Bagi Melisa Cantika, lagu ini adalah pernyataan jati diri. Tentang pulang, tentang rindu, dan tentang kebanggaan menjadi anak Klaten.
“Klaten bukan sekadar kabupaten. Klaten adalah rumah bagi hati,” tuturnya.
Melalui Ono Opo Klaten, Melisa Cantika dan VIDITAMA membuktikan bahwa musik lokal tak hanya layak didengar, tetapi juga dirayakansebagai suara daerah yang terus hidup di tengah zaman.






