SUKOHARJO – Kartosuro mencatatkan langkah baru dalam pelestarian budaya Jawa dengan memulai pembuatan keris yang akan menjadi ikon daerah sekaligus simbol doa, harapan, dan identitas masyarakat. Keris tersebut direncanakan menjadi pusaka bersama yang akan dikirab setiap peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kartosuro.
Gagasan tersebut disampaikan oleh penggagas kegiatan, M. Budi AJM, SE, dalam acara saresehan budaya yang digelar di kawasan bersejarah Kartosuro.
Menurutnya, keris bukan sekadar senjata tradisional, melainkan sebuah simbol spiritual yang mengandung doa dan filosofi kehidupan masyarakat Jawa.
“Keris yang kami buat merupakan perwujudan doa masyarakat Kartosuro agar daerah ini senantiasa diberi kemakmuran, kecukupan sandang pangan, serta dijauhkan dari berbagai mara bahaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keris akan menggunakan pamor yang memiliki makna filosofis, seperti Beras Wutah yang melambangkan kecukupan rezeki serta Udan Mas yang menjadi simbol kemakmuran.
Dalam proses pembuatannya, berbagai unsur logam seperti besi, emas, perak, perunggu hingga batu meteor dipadukan menjadi satu. Perpaduan tersebut melambangkan bersatunya unsur bumi dan langit sebagai doa yang diwujudkan dalam bentuk keris.
Tak hanya itu, air yang digunakan dalam proses tempa juga diambil dari berbagai sumber mata air dan air hujan sebagai simbol keselarasan alam.
“Proses penempaan dilakukan dengan lipatan logam hingga ratusan bahkan ribuan kali sebagai lambang kesabaran dan ketekunan,” jelasnya.
Pembuatan keris ini dipercayakan kepada Empu Taufik Bro Lawu, seorang empu yang dikenal memiliki pendekatan tersendiri dalam menempa keris berdasarkan filosofi dan spiritualitas Jawa.
Muhammad Iman berharap keris tersebut nantinya menjadi warisan budaya yang dapat dinikmati generasi mendatang.
“Mungkin sekarang pembuatannya terlihat biasa, tetapi seratus hingga dua ratus tahun mendatang keris ini akan menjadi bagian dari sejarah Kartosuro dan menjadi peninggalan berharga bagi anak cucu kita,” katanya.
Dukungan Pelestarian Budaya
Sementara itu, Dr. Brm Kusumo Putro SH MH. Ketua Forum Budaya Mataram dan Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia menilai saresehan dan pembuatan keris merupakan langkah nyata dalam menjaga warisan budaya Jawa yang mulai ditinggalkan generasi muda.
Menurutnya, saat ini semakin banyak anak muda yang tidak lagi memahami nilai-nilai budaya, termasuk filosofi keris beserta berbagai jenis pamornya.
Sebagai bentuk kecintaannya terhadap budaya, ia mengaku telah mengoleksi sekitar 225 bilah keris dari berbagai era, mulai dari masa Majapahit, Demak, Surakarta, Mangkunegaran, Yogyakarta, Cirebon hingga Bali.
“Keris-keris itu saya rawat selama lebih dari dua puluh tahun. Kondisinya hingga kini masih sangat baik. Dari situ kita bisa melihat betapa tingginya teknologi dan peradaban leluhur Nusantara dalam menempa logam yang mampu bertahan ratusan tahun,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai upaya menjaga eksistensi budaya lokal.
Selain itu, ia juga mendorong pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Sukoharjo memberikan dukungan melalui penganggaran program kebudayaan agar kegiatan pelestarian budaya dapat berkembang lebih besar.
“Saya mendukung penuh kegiatan seperti ini. Semoga ke depan bisa menjadi agenda tahunan dan semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang ikut mengenal serta mencintai budaya leluhurnya,” pungkasnya.






